Sang Bhima dibawa terbang ke gunung Srngga. Maka lalu berhias diri, segala sesuatunya menyebabkan rupanya merindukan;
segala macam pakaian yang utama dikenakannya.
Karena itu Sang Bhima merasa senang, lalu berjalan-jalan di tempat yang sangat ramainya, tempat itu didatangi berdua.
Masuk taman dalam hutan itu, sampai di asrama, di gunung, habis didatanginya.
Mereka merasa senang. Akhirnya ia bercumbuan dengan sang Hidimbi,
dan berputera seorang (berbadan) raksasa,
tiksnadamstra taringnya tajam,
sutamranetra matanya merah,
mahawaktra mulutnya lebar,
sangkukarna telinganya seperti lipung (tombak),
mahatanuh badannya besar,
mahajothawa perutnya (pun) besar,
mahabalah sangat saktinya dan kuat pula.
Balo ‘pi yauwanam praptah karena anak lahir di hutan (menyebabkan) tiada takut akan segala macam bahaya.
Agrastah tiada kurang sedikitpun kebagusan perangainya,
manojawah jalannya sangat kencang, sama dengan jalan pikiran, kesaktiannya bagai kesaktian raksasa.
Maka anak itu menyembah ke pada ibu dan bapanya.
Ghatopamah kacokesi lagi pula kelihatan rambutnya lebat tidak teratur, sanggulnya seperti ghata (periuk)
Tasmad Ghatotkaca maka diberinya nama Ghatotkaca.
Sangat moleknya, diramalkan Batara Indra, kelak akan mendapatkan lipung Sang Karna.
Demikianlah anak Sang Bhima itu.
Sesudah sang Hidimbi berputera itu lalu kembali ke tempat Dewi Kunti diiringkan oleh Sang Bhima dan sang Ghatotkaca.
Bertemulah empat orang Pandawa dalam pesta, tiada kurang sedikitpun berkat kebesaran jiwa sang Hidimbi.
kemudian datanglah Ghatotkaca minta supaya diberi petunjuk barang
sesuatu yang baik dikerjkan dalam keadaan bahaya yang mungkin terjadi.
Sesudah menyembah dan minta diri ke pada Dewi Kunti dan lima orang Pandawa, iapun pergi bersama dengan ibunya.
Sang Pandawa ditinggalkannya.
Bahasa Jawa Kuna dan Indonesia oleh P.J. Zoetmulder, penerbit Paramita – Surabaya 2006 (bab XV- hal 232)
Senin, 10 Februari 2014
Senin, 03 Februari 2014
Kisah Perang Bharatayuda
Karna
menjadi panglima perang, dan berhasil menewaskan musuh. Yudhisthira
minta agar Arjuna menahan serangan Karna. Arjuna menyuruh Ghatotkaca
untuk menahan dengan ilmu sihirnya, Ghatotkaca mengamuk, Korawa lari
tunggang-langgang. Karna dengan berani melawan serangan Ghatotkaca.
Namun Ghatotkaca terbang ke angkasa. Karna melayangkan panah, dan
mengenai dada Ghatotkaca. Satria Pringgandani ini limbung dan jatuh
menyambar kereta Karna, tetapi Karna dapat menghindar dan melompat dari
kereta. Ghatotkaca mati di atas kereta Karna. Para Pandawa berdukacita.
Hidimbi pamit kepada Dropadi untuk terjun ke perapian bersama jenasah
anaknya.
Pertempuran terus berkobar, Drona
berhasil membunuh tiga cucu Drupada, kemudian membunuh Drupada, dan raja
Wirata. Maka Dhrtadyumna ingin membalas kematian Drupada.
Kresna mengadakan tipu muslihat.
Disebarkannya berita, bahwa Aswatthama gugur. Yudhisthira dan Arjuna
mencela sikap Kresna itu. Kemudian Bhima membunuh kuda bernama
Aswatthama, kemudian disebarkan berita kematian kuda Aswatthama.
Mendengar berita kematian Aswatthama, Drona menjadi gusar, lalu pingsan.
Dhrtadyumna berhasil memenggal leher Drona. Aswatthama membela kematian
ayahnya, lalu mengamuk dengan menghujamkan panah Narayana. Arjuna sedih
atas kematian gurunya akibat perbuatan yang licik. Arjuna tidak
bersedia melawan Aswatthama, tetapi Bhima tidak merasakan kematian
Drona. Dhrtadymna dan Satyaki saling bertengkar mengenai usaha
perlawanan terhadap Aswatthama. Kresna dan Yudhisthira menenangkan
mereka. Pandawa diminta berhenti berperang. Tapi Bhima ingin melanjutkan
pertempuran, dan maju ke medan perang mencari lawan, terutama ingin
menghajar Aswatthama. Saudara-saudaranya berhasil menahan Bhima. Arjuna
berhasil melumpuhkan senjata Aswatthama. Putra Drona ini lari dan
sembunyi di sebuah pertapaan. Karna diangkat menjadi panglima perang.
Banyak perwira Korawa yang memihak kepada Pandawa.
Pada waktu tengah malam, Yudhisthira
meninggalkan kemah bersama saudara-saudaranya. Mereka khidmat menghormat
kematian sang guru Drona, dan menghadap Bhisma yang belum meninggal dan
masih terbaring di atas anak panah yang menopang tubuhnya. Bhisma
memberi nasihat agar Pandawa melanjutkan pertempuran, dan memberi tahu
bahwa Korawa telah ditakdirkan untuk kalah.
Pandawa melanjutkan pertempuran melawan
Korawa yang dipimpin oleh Karna. Karna minta agar Salya mau mengusiri
keretanya untuk menyerang Kresna dan Arjuna. Salya sebenarnya tidak
bersedia, tetapi akhirnya mau asal Karna menuruti perintahnya.
Pertempuran berlangsung hebat, disertai
caci maki dari kedua belah pihak. Bhima bergulat dengan Doryudana,
kemudian menarik diri dari pertempuran. Dussasana dibunuh oleh Bhima,
sebagai pembalasan sejak Dussasana menghina Drupadi. Darah Dussasana
diminumnya.
Arjuna perang melawan Karna. Naga raksasa
bernama Adrawalika musuh Arjuna, ingin membantu Karna dengan masuk ke
anak panah Karna untuk menembus Arjuna. Ketika hendak disambar panah,
kereta yang dikusiri Kresna dirundukkan, sehingga Arjuna hanya
terserempet mahkota kepalanya. Naga Adrawalika itu ditewaskan oleh panah
Arjuna. Ketika Karna mempersiapan anak panah yang luar biasa saktinya,
Arjuna telah lebih dahulu meluncurkan panah saktinya. Tewaslah Karna
oleh panah Arjuna.
Doryudhana menjadi cemas, lalu minta agar
Sakuni melakukan tipu muslihat. Sakuni tidak bersedia karena waktu
telah habis. Diusulkannya agar Salya jadi panglima tinggi. Sebenarnya
Salya tidak bersedia. Ia mengusulkan agar mengadakan perundingan dengan
Pandawa. Aswatthama menuduh Salya sebagai pengkhianat, dan menyebabkan
kematian Karna. Tuduhan itu menyebabkan mereka berselisih, tetapi
dilerai oleh saudara-saudaranya. Aswatthama tidak bersedia membantu
perang lagi. Salya terpaksa mau menjadi panglima perang. Nakula disuruh
Kresna untuk menemui Salya, dan minta agar Salya tidak ikut berperang.
Nakula minta dibunuh daripada harus berperang melawan orang yang harus
dihormatinya. Salya menjawab, bahwa ia harus menepati janji kepada
Duryodhana, dan melakukan darma kesatria. Salya menyerahkan kematiannya
kepada Nakula dan agar dibunuh dengan senjata Yudhisthira yang bernama
Pustaka, agar dapat mencapai surga Rudra. Nakula kembali dengan sedih.
Salya menemui Satyawati, pamit maju ke
medan perang. Isteri Salya amat sedih dan mengira bahwa suaminya akan
gugur di medan perang. Satyawati ingin bunuh diri, ingin mati sebelum
suaminya meninggal. Salya mencegahnya. Malam hari itu merupakan malam
terakhir sebagai malam perpisahan. Pada waktu fajar Salya meninggalkan
Satyawati tanpa pamit, dan dipotongnya kain alas tidur isterinya dengan
keris. Salya memimpin pasukan Korawa. Amukan Bhima dan Arjuna sulit
untuk dilawannya. Salya menghujankan anak panahnya yang bernama
Rudrarosa. Kresna menyuruh agar Pandawa menyingkir. Yudhisthira disuruh
menghadap Salya. Yudhisthira tidak bersedia harus melawan pamannya.
Kresna menyadarkan dan menasihati Yudhisthira. Yudhisthira disuruh
menggunakan Kalimahosadha, kitab sakti untuk menewaskan Salya. Salya
mati oleh Kalimahosadha yang telah berubah menjadi pedang yang
bernyala-nyala. Kematian Salya diikuti oleh kematian Sakuni oleh Bhima.
Berita kematian Salya sampai kepada Satyawati. Satyawati menuju medan
perang, mencari jenasah suaminya. Setelah ditemukan, Satyawati bunuh
diri di atas bangkai suaminya.
Duryodhana melarikan diri dari medan
perang, lalu bersembunyi di sebuah sungai. Bhima dapat menemukan
Duryodhana yang sedang bertapa. Duryodhana dikatakan pengecut.
Duryodhana sakit hati, lalu bangkit melawannya. Bhima diajak berperang
dengan gada. Terjadilah perkelahian hebat. Baladewa yang sedang
berziarah ke tempat-tempat suci diberi tahu oleh Narada tentang
peristiwa peperangan di Hastina. Kresna menyuruh Arjuna agar Bhima
diberi isyarat untuk memukul paha Duryodhana. Terbayarlah kaul Bhima
ketika hendak menghancurkan Duryodhana dalam perang Bharatayudha.
Baladewa yang menyaksikan pergulatan Bhima dengan Duryodhana menjadi
marah, karena Pandawa dianggap tidak jujur, lalu akan membunuh Bhima.
Tetapi maksud Baladewa dapat dicegah, dan redalah kemarahan Baladewa..
R.S. Subalidinata
Langganan:
Postingan (Atom)